Manggarai Barat

Kamis, 4 Juni 2020 - 15:24 WIB

11 bulan yang lalu

logo

Upacara adat Teing Hang atau memberi makan kepada para leluhur orang Manggarai. (Foto: Kornelius Rahalaka)

Upacara adat Teing Hang atau memberi makan kepada para leluhur orang Manggarai. (Foto: Kornelius Rahalaka)

Torok Teing Hang, Memberi Makan Para Leluhur

Labuan Bajo, floreseditorial.com – Dalam tradisi masyarakat Manggarai Raya (Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat), torok merupakan bentuk doa asli orang Manggarai. Torok memiliki banyak nilai positif untuk kehidupan manusia. Nilai-nilai itu dilihat dalam konteks keseluruhan hidup manusia yang memiliki orientasi mencapai kehidupan yang damai dan sejahtera.

Bagi orang Manggarai Raya, perjuangan mencapai kehidupan yang didambakan selalu berada dalam tiga dimensi waktu yakni masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Bertumpu pada masa sekarang, orang Manggarai membaca kehidupannya dengan meneropong masa lalu seraya mengarahkan diri ke masa depan. Karena itu, waktu bagi orang Manggarai mempunyai peran sangat penting dalam siklus kehidupan manusia.

Torok terdiri dari ungkapan-ungkapan yang tersusun dalam syair-syair indah untuk menyatakan maksud-maksud tertentu, yang ditujukan kepada Wujud Tertinggi yang oleh orang Manggarai dikenal dengan sebutan Mori atau Tuhan, serta ungkapan doa dan harapan bagi para leluhur mereka yang sudah meninggal dunia.

Upacara torok selalu disampaikan dalam konteks acara adat, dalam suasana sakral dan penutur torok merupakan perwakilan dari para peserta yang hadir. Torok kerap pula terkait dengan siklus kehidupan orang Manggarai Raya dalam filosofi terkenal yakni gendangan one, lingkon pe’ang yang menyatakan satu kesatuan antara rumah sebagai tempat tinggal dengan lingko sebagai lahan mengais kehidupan. Filosofi ini sangat melekat dan nyata dalam berbagai upacara dan ritus orang Manggarai Raya, baik dalam upacara yang bersifat komunal maupun privat.

Ada banyak torok dalam beragam upacara komunal antara lain ritus adat dalam sistem lingko yakni upacara Cengekrawas, Nampo Tente Teno, Tente Latung, Ciwal, Tapa, Romping, Lapat Langeng, Reke Pago Latung, Bantang Ako, Hang Rani, Rik Woja, Karong Woja Wole dan Penti. Namun ada pula torok yang bersifat privat seperti dalam upacara kehamilan, kelahiran, upacara perkawinan dan Teing Hang (upacara pemberian penghormatan kepada para leluhur dengan memberi makan atau sesajian kepada para luluhur, bertujuan untuk memohon perlindungan dalam perjalanan dan perjuangan hidup dan lain sebagainya.

Torok dalam upacara Teing Hang atau persembahan kepada leluhur biasanya terdiri dari beberapa fase antara lain bagian pembukaan, yakni pihak tuan rumah mendatangi rumah penutur torok untuk menyampaikan maksud diadakan upacara teing hang. Penutur torok setelah menerima maksud diadakan ritus tersebut dan upacara teing hang akan mulai dilakukan. Biasanya dalam upacara torok teing hang, yang menjadi kurban adalah ayam jantan putih. Tujuan utama upacara teing hang adalah supaya para leluhur tidak menjadi murkah oleh karena keluarga yang masih hidup melupakan mereka atau berperilaku tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Misalnya, saling bermusuhan antar anggota keluarga.

Setelah menyampaikan sapaan terhadap para leluhur, penutur torok memegang ayam jantan sambil mengarahkan matanya ke depan. Penutur torok menyampaikan kembali struktur yang sama seperti bagian terdahulu. Setiap satu bait torok selesai, Ia mencabut bulu ayam itu sehingga ayam tersebut mengeluarkan suara atau berkokok. Si penutur torok sambil menyapa dalam bahasa adat para leluhur serta seluruh peserta dan anggota keluarga yang hadir dalam upacara teing hang tersebut.

Setelah acara torok selesai, ayam tersebut dibunuh dan dilihat ususnya. Penutur torok biasanya adalah orang-orang terpilih atau orang tertentu saja yang memiliki kemampuan untuk membaca tanda-tanda tertentu pada usus ayam itu. Jika usus ayam terlipat atau salang da’at mbeko maka pratanda buruk bagi keluarga yang mengadakan upacara teing hang. Sebaliknya, jika usus ayam tersebut terlihat lurus atau salang di’a nggeluk dapat disimpulkan bahwa empo ema atau para leluhur yang diberi makan menerima persembahan itu. Para anggota keluarga yang sedang bertikai atau berkonflik pun saling memaafkan atau rekonsiliasi dan berdamai satu sama lain.

Acara selanjutnya, hati ayam dan sedikit daging diambil lalu dipanggang atau dibakar, lalu disatukan dengan nasi yang sudah disiapkan di dalam piring bersama satu gelas tuak untuk kemudian diberikan kepada leluhur. Penutur torok sambil menyapa dan mengajak para leluhur untuk makan bersama dan semua keluarga yang ikut dalam acara tersebut bersama-sama menikmati hidangan yang telah disiapkan.

Melalui torok, khususnya dalam upacara teing hang ini, orang Manggarai Raya percaya bahwa kehidupan mereka akan kembali harmonis dan jauh dari berbagai masalah sosial atau pertikaian. Persaudaraan dan kekeluargaan kembali terajut dengan baik dan kehidupan mereka tak terganggu lagi lantaran leluhur telah diberi perhatian oleh anggota keluarga yang masih hidup. Orang Manggarai Raya percaya bahwa antara orang yang telah meninggal dan mereka yang hidup di dunia ini, masih memiliki relasi persaudaraan yang utuh dan satu.

Keyakinan ini menjadi kuat tatkala ada pengalaman sakit atau kemalangan yang menimpa mereka tanpa sebab yang jelas. Apalagi bila setelah berusaha berobat secara medis, sakit penyakit yang mereka alami tak pernah sembuh. Demikian pula dengan kemalangan lain seperti kematian hewan peliharaan tanpa sebab yang jelas. Maka upacara teing hang merupakan upaya untuk membangun kembali relasi persaudaraan yang retak antara mereka yang sudah meninggal dengan orang yang masih hidup, sehingga akhirnya bukan murkah yang diperoleh tetapi damai sejahtera. *(kis)

Artikel ini telah dibaca 1310 kali

Baca Lainnya
x