Manggarai

Jumat, 10 Juli 2020 - 06:12 WIB

7 bulan yang lalu

logo

Mus Wangggut, Budayawan Manggarai. (Foto: Kornelius Rahalaka)

Mus Wangggut, Budayawan Manggarai. (Foto: Kornelius Rahalaka)

Ketika “Paca” Kehilangan Nilai Spiritual

Ruteng, floreseditorial.com – Dalam tradisi perkawinan adat orang Manggarai, paca atau belis (mahar) merupakan salah satu unsur penting dalam proses perkawinan. Pada zaman dulu, bentuk dan jumlah paca ditentukan berdasarkan musyawarah antara pihak anak rona atau keluarga laki-laki dengan pihak anak wina atau keluarga perempuan. Namun, belakangan ini nilai spiritualitas paca mengalami pergeseran dan perlahan-lahan kehilangan maknanya.
Padahal, paca bagi orang Manggarai memiliki nilai spiritualitas yang tinggi, selain sebagai alat pemersatu atau perekat relasi antara anak rona dan anak wina.

Dengan demikian, paca atau belis bagi orang Manggarai tidak hanya dilihat sekadar sebagai alat transaksi semata. Sayangnya, “paca kini mengalami pergeseran nilai spiritual dari maknanya yang sesungguhnya,” demikian budayawan Manggarai, Mus Wanggut kepada floreseditorial.com di Ruteng, Jumat (10/7/2020).

Pergeseran nilai dan makna itu diakibatkan beberapa faktor antara lain, semakin berkurangnya hewan kerbau atau kuda sebagai alat paca, uang dijadikan sebagai alat transaksi utama serta adanya intervensi agama khususnya Gereja Katolik dalam proses perkawinan gereja.

Dikatakan, paca yang sejatinya merupakan alat bukti perekat dan pemersatu hubungan antara anak wina dan anak rona mengalami kemerosotan makna spiritualitasnya. Paca cenderung hanya dilihat sebagai alat transaksi semata. Kini, paca telah bergeser maknanya hanya menjadi alat transaksi, sehingga terkesan semacam praktek jual beli dalam perkawinan.

Paca juga memiliki nilai keadilan, kesetaraan, keseimbangan dalam menciptakan relasi sosial yang harmonis antara semua pihak terutama antar kedua keluarga besar. Pada zaman dulu, jumlah paca maksimal 10 kerbau atau kuda. Jumlah itu pun sangat tergantung pada hasil musyawarah antara kedua keluarga besar dalam suatu acara adat lonto leok bantang cama (musyawarah mufakat).

Pada masa lalu, paca berfungsi sebagai alat pemersatu dan perekat relasi antara keluarga anak rona dan anak wina, juga sebagai alat bukti dari pihak anak rona bahwa Ia sanggup dan siap menjamin kehidupan yang baik bagi anak wina atau sang istri yang akan Ia nikahi.

Pada zaman dulu, hampir semua keluarga Manggarai memelihara kerbau atau kuda selain dijual untuk memenuhi kebutuhan keluarga juga untuk dijadikan sebagai alat paca. Sejak tahun 1980-an, seiring berkembangnya dunia perdagangan, hewan peliharaan dijual keluar daerah secara besar-besaran, maka jumlah kerbau dan kuda serta keluarga yang memelihara kedua jenis hewan itu pun semakin berkurang.

Perlahan-lahan paca mengalami pergeseran nilai. Hewan kerbau dan kuda diganti dengan uang sebagai alat transaksi termasuk sebagai pengganti paca itu sendiri.

Dalam hal adat perkawinan, orang Manggarai memperlakukan pihak anak laki-laki secara baik dan terhormat. Jika keluarga laki-laki belum mampu membayar sejumlah paca kepada pihak keluarga wanita, maka anak laki-laki biasanya diharuskan untuk tinggal bersama keluarga perempuan sampai pihak keluarga laki-laki melunasi sejumlah paca sebagaimana telah disepakati bersama.

Hal ini dikenal dengan sebutan: gogong mata olo, dongge mata one. Secara harfiah berarti tempat atau alat dari bambu untuk menyimpan makanan babi. Ungkapan ini merupakan eufemisme atau simbol bahwa anak laki-laki rela tinggal bersama keluarga perempuan untuk bekerja melayani keluarga perempuan sampai pihak laki-laki melunasi belis atau paca seperti yang telah ditentukan. Dalam hal penentuan besaran paca pun orang Manggarai tidak mengenal adanya strata sosial entah kaya atau miskin, bangsawan atau rakyat jelata.

Hanya saja, zaman sekarang, paca telah mengalami kemerosotan nilai dan makna spiritualitasnya. Paca perlahan-lahan mengalami reduksi makna dari alat perekat relasi antara keluarga laki-laki dan keluarga perempuan menjadi sekadar alat transaksi semata. Mayoritas penduduk Manggarai yang beragama katolik pun perlahan-lahan mulai meninggalkan prosedur perkawinan adat.

Kondisi demikian diperburuk oleh intervensi institusi Gereja Katolik yang secara sadar atau tak sadar, ikut melegitimasi kemerosotan nilai spiritual paca itu sendiri. Hal ini terlihat dalam pelaksanaan ritus perkawinan secara katolik, di mana pemimpin gereja seperti pastor atau uskup kerap mendahulukan ritual perkawinan gereja ketimbang mengikuti proses perkawinan adat Manggarai.

“Di sini, ritual agama dan uang menjadi alat ukur spiritualitas,” kritiknya.

Dalam sejumlah kasus, ditemukan adanya konflik kepentingan dibalik ritual perkawinan adat dan perkawinan ala gereja. Paca yang seharusnya menjadi landasan perkawinan adat serta merta digantikan dengan proses perkawanan Gereja Katolik. Akibatnya, dikemudian hari memunculkan konflik bahkan bisa berujung perceraian.

Padahal, pada zaman dulu, sebelum Gereja Katolik merayakan Sakramen Perkawinan, pemimpin gereja setempat terlebih dulu menanyakan kepada para tetua adat perihal seluruh proses perkawinan adat. Bila proses adat sudah selesai dan dinyatakan tidak ada masalah, gereja baru turut serta mengesahkan perkawinan sesuai ritus Gereja Katolik dan bukan sebaliknya.

Jadi, institusi Gereja Katolik semestinya hanya ikut melegitimasi atau mengesahkan proses perkawinan adat yang sudah dijalankan oleh kedua keluarga besar. Pada zaman dulu, pastor baru bisa memberikan sakramen pernikahan kepada pasangan suami-istri, jika urusan adat sudah selesai termasuk urusan paca maupun urusan adat lainnya. Dengan demikian, Gereja Katolik waktu itu hanya melanjutkan atau ikut mengesahkan perkawinan adat yang sudah dilakukan oleh kedua belah pihak.

Namun, kini gereja malah bertindak sebagai pelaku utama untuk melegitimasi perkawinan seseorang. Pergeseran pola dan nilai perkawinan ini juga sebagai bagian dari upaya melegitimasi Gereja Katolik sekaligus ekspresi arogansi kekuasaan lembaga keagamaan.
Kemerosotan nilai perkawinan adat Manggarai seperti digambarkan ini, cukup sulit dipulihkan kembali lantaran selain cengkraman institusi Gereja Katolik Manggarai sangat kuat, paca sebagai alat pemersatu dan perekat relasi antara kedua keluarga besar yakni anak wina dan anak rona sudah kehilangan makna dan spiritualitasnya.

Paca sudah dilihat sekadar sebagai alat transaksi dan uang adalah alat transaksi itu. Paca akhirnya kehilangan nilai spiritualitasnya. Hal ini diperburuk oleh praktik Gereja Katolik yang melegitimasi perkawinan melalui ritual Gereja Katolik, serentak mengabaikan perkawinan adat Manggarai. *(Kornelius Rahalaka)

Artikel ini telah dibaca 218 kali

Baca Lainnya
x