Manggarai Barat

Sabtu, 18 Juli 2020 - 13:12 WIB

5 bulan yang lalu

logo

Wisatawan mancanegara diterima secara adat di Kampung Tado. (Foto: Kornelius Rahalaka)

Wisatawan mancanegara diterima secara adat di Kampung Tado. (Foto: Kornelius Rahalaka)

Pesona Wisata Budaya Kampung Tado

Sano Nggoang, floreseditorial.com – Kampung Tado, nama itu melekat erat di hati sebagian besar warga Manggarai Barat. Letaknya sekitar 45 Km dari Ibu Kota Labuan Bajo. Kampung tradisional itu terkenal lantaran menyimpan sejuta kisah bersejarah. Jadi terkenal lantaran Kampung Tado sebagai salah satu pusat kebudayaan masyarakat Manggarai Barat yang diwariskan secara turun temurun.

Tado, sebuah kampung tradisional dalam bilangan Desa Nampar Macing, Kecamatan Sano Nggoang. Kampung Tado dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua atau empat. Dari Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat dapat ditempuh dengan kendaraan sekitar 90 menit. Jika dari Ruteng, Ibu Kota Kabupaten Manggarai memerlukan waktu sekitar 120 menit.

Kampung Tado merupakan sebutan umum bagi masyarakat di dua wilayah desa bertetangga yakni Desa Nampar Macing dan Desa Golo Leleng. Pasalnya, masyarakat di dua wilayah desa itu hanya memiliki satu tua golo atau tua kampung. Masyarakat di dua wilayah desa dipersatukan dan berada di bawah kepemimpinan seorang tua golo yang membawahi 12 mukang atau suku yang bersifat otonom.

Dalam berbagai urusan terkait kehidupan sosial budaya, masyarakat adat Tado tetap tunduk taat di bawah kepemimpinan Tua Golo Tado. Disebutkan sampai kini, masyarakat adat Tado sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan adat istiadat secara konsisten.

Mereka sangat mengedepankan kebersamaan, persaudaraan dan gotong royong dalam membangun kampung. Bila ada masalah, mereka selalu selesaikan ditingkat golo/kampung. Warga kampung selalu mengedepankan nilai-nilai perdamaian dan keharmonisan dalam kehidupan bersama.

Di tengah arus modernisasi yang kian mencengangkan, warga Tado masih tetap eksis mempertahankan kebudayaan yang diwariskan nenek moyang mereka. Di Kampung Pusut, misalnya, sejumlah warga masih mewariskan pembuatan tembikar atau periuk dari tanah. Ada pula praktik pengobatan secara tradisional menggunakan ramuan dari tumbuh-tumbuhan hutan.

Terdapat sejumlah sanggar budaya yang menampilkan seni seperti tarian caci dan kesenian lainnya. Sanggar budaya setiap waktu siap melayani para tamu baik wisatawan mancanegara maupun domestik, serta menyambut perayaan-perayaan keagamaan atau pada pesta adat setempat.

“Struktur adat Tado masih terpelihara dengan baik sampai sekarang. Demikian pula tarian dan adat istiadat yang diwariskan nenek moyang kami. Kami menyadari bahwa perjalanan waktu, masyarakat adat mengalami banyak tantangan, namun kami tetap berusaha mempertahankannya,” ujar Yere, yang juga anak kandung dari tua golo setempat.

Selain terkenal institusi adat beserta ritus-ritus adatnya yang masih kuat dan terpelihara, Tado pada zaman dulu terkenal sebagai tempat pertahanan yang sulit tergoyahkan oleh tragedi peperangan yang dilakukan pihak luar. Pasa zaman peperangan itu, Kampung Tado disebut-sebut memiliki benteng pertahanan yang sangat kuat untuk menghadang gerak maju pasukan dan serangan dari musuh-musuhnya.

Di kampung ini tersimpan sejumlah peninggalan sejarah yang masih tetap dilestarikan masyarakat setempat. Kampung Tado masih menunjukkan jati dirinya sebagai salah satu kampung tertua di Manggarai Barat. Kampung yang tetap eksis mempertahankan nilai-nilai budayanya sebagai way of life masyarakat Tado dan penduduk di sekitarnya. *(Kornelius Rahalaka)

Artikel ini telah dibaca 391 kali

Baca Lainnya
x