Nagekeo

Rabu, 22 Juli 2020 - 12:13 WIB

4 bulan yang lalu

logo

Atraksi Etu, tinju adat khas Nagekeo. (Foto: Ist)

Atraksi Etu, tinju adat khas Nagekeo. (Foto: Ist)

Lestarikan Etu, Tinju Adat Warisan Leluhur

Mbay, floreseditorial.com – Masyarakat dunia mengenal olahraga tinju sebagai salah satu cabang olahraga keras, biasa dipertandingkan demi memperebutkan kejuaraan berupa sabuk juara diserta hadiah piala atau uang. Dalam olahraga tinju, dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung seperti arena bertarung atau ring tinju, sarung tangan tinju diikuti persyaratan dan peraturan yang wajib ditaati.

Namun, jenis tinju yang satu ini berbeda dengan olahraga tinju yang dikenal luas masyarakat. Etu, nama olahraga tinju tradisional yang biasa dipentaskan masyarakat Nagekeo.

Etu bagi orang Nagekeo bukan sekadar olahraga. Lebih dari itu, etu merupakan atraksi seni budaya daerah warisan turun temurun. Atraksi tinju etu biasa dipentaskan sebagai ungkapan puji syukur dan persembahan, kepada bumi tempat berpijak yang telah memberi sumber kehidupan bagi seluruh masyarakat Nagekeo.

Bagi masyarakat Nagekeo khususnya Boawae, Mauponggo dan Aesesa, etu sudah men-tradisi dan diwariskan turun temurun oleh leluhur mereka. Etu biasa digelar pada bulan Juni setiap tahunnya sebagai ungkapan syukur dan pentaskan di setiap rumah adat.

Pada atraksi tinju adat atau etu, biasanya, para petinju adalah anak-anak muda yang beraksi secara spontan. Hanya saja, sebelum bertarung, kedua peserta biasanya dikenakan busana khusus. Para petarung menggunakan kain panjang semacam selendang yang diikat pada pinggang masing-masing petinju. Sarung tinju terbuat dari gulungan ijuk pohon aren. Gulungan ijuk tersebut digenggam di tangan, dikenal dengan sebutan kepo.

Atraksi tinju ini dipimpin seorang wasit yang ditunjuk sebelumnya. Tidak dibatasi durasi waktu atau ronde seperti dikenal dalam dunia tinju. Lamanya waktu bertinju tergantung situasi dan kondisi serta wasit yang memimpin pertandingan.

Tinju adat etu bisa dipimpin lebih dari satu wasit. Wasit yang memimpin pertandingan disebut seka. Tugas seka yakni memimpin pertandingan sekaligus mengendalikan jalannya pertandingan. Seka juga bertugas mencari calon lawan tanding atau penonton yang hadir di sekitar arena tinju.

Tugas seka penting terutama dalam hal mengendalikan pertarungan agar tidak mengarah kepada tindakan kebrutalan atau menimbulkan kekacauan. Seka bertugas memegang ujung kain dari masing-masing petarung. Selain seka, petugas lain yang berperan memperlancar atraksi etu yakni mosalaki bebho, bertugas mencari dan menentukan calon petarung lainnya.

Dalam atraksi etu, sportifitas sangat dijunjung tinggi baik oleh petarung maupun oleh penonton dan semua warga yang mengikuti ritual adat tersebut. Dalam pertarungan itu, para petarung sering cedera bahkan berdarah-darah akibat terkena pukulan ‘sarung tinju’ yang keras dan padat.

Meskipun berdarah atau benjol akibat terkena pukulan, para petarung tetap menjunjung sportifitas dan selalu mengedepankan rasa persaudaraan dan perdamaian. Jika ada petarung yang mengekpresikan emosional misalnya, tidak dipandang sebagai ekspresi dendam melainkan ‘sinyal’ bahwa Ia ingin bertarung pada waktu-waktu mendatang.

Atraksi etu diiringi nyanyian adat yang mendaraskan nasihat atau ejekan bahkan sindiran kepada masing-masing kubu petarung, untuk memberikan semangat bagi para petarung dan menghibur semua warga yang hadir dalam ritual adat tersebut. Kini, tradisi etu masih terpelihara baik dan selalu dipentaskan setiap tahun sebagai ekspresi rasa puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan dan para leluhur. *(Kornelius Rahalaka)

Artikel ini telah dibaca 355 kali

Baca Lainnya
x