Manggarai Barat

Kamis, 23 Juli 2020 - 05:36 WIB

4 bulan yang lalu

logo

Beragam motif kain tenun khas Flores. (Foto: Kornelius Rahalaka)

Beragam motif kain tenun khas Flores. (Foto: Kornelius Rahalaka)

Perempuan dan Pesona Tenun Ikat Flores

Labuan Bajo, floreseditorial.com – Sejak dulu kala, masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) umumnya dan Pulau Flores khususnya, terkenal memiliki kebudayaan khas salah satunya menenun. Hampir setiap suku, etnis atau wilayah di Flores mewarisi tradisi menenun dari nenek moyang hingga generasi ke generasi.

Kebiasaan menenun itu identik dengan perempuan, lantaran umumnya dikerjakan kaum perempuan. Bahkan di beberapa suku, seorang perempuan yang tidak bisa menenun dipandang ‘bukan perempuan’, yang boleh jadi Ia kehilangan pesona di mata kaum laki-laki.

Bukti bahwa perempuan Flores pandai menenun dapat ditemukan di setiap kabupaten, kecamatan dan desa-desa di daerah ini. Hasil karya mereka terpajang pada ruang-ruang publik seperti pasar-pasar tradisional, pasar swalayan, hotel, outlet, atau sering dipakai kaum perempuan dan laki-laki Flores pada setiap acara adat, ritual agama atau kegiatan sosial lainnya.

Kekhasan dan keunikan hasil tenun perempuan Flores bukan hanya tampak pada tampilannya yang cantik atau keanekaragaman konsep desain dan coraknya yang mempesona, tapi juga pada filosofi dan nilai yang menyata pada motif-motif khas tribal.

Karena itu, tenun ikat Flores dan NTT umumnya banyak diapresiasi sebagai warisan tradisi, identitas budaya yang pantas dilindungi dan diburu di pasaran karena keunikannya berharga.

Namun, semakin melambungnya posisi tenun ikat NTT di pentas nasional bahkan internasional, berpotensi menghilangkan khas motif tribal-nya lantaran cenderung mengikuti selera pasar. Fenomena tersebut membuat khawatir sejumlah pelaku atau perancang tenun ikat Flores. Sebagaimana diungkapkan, Adelheid Seda Woda, perancang tenun tradisional khas Flores.

Ia mengaku, dalam era globalisasi ini, hasil karya tradisional yang unik dan khas kerap kali dimanipulasi sedemikian rupa agar mengikuti selera pasar. Akibatnya, kita kehilangan jati diri, filosofi hidup dan kekhasan tradisi hasil karya warisan leluhur.

”Kita boleh mengikuti perkembangan zaman dan selera pasar, tapi harus tetap mempertahankan kekhasan karya warisan leluhur kita. Setiap suku di Flores, punya ciri khas tersendiri dalam ragam dan corak tenun sebagai ekspresi tata nilai dan simbol kehidupan dalam relasi dengan sesama, Tuhan dan lingkungan. Karenanya, kita harus menjaga keasliannya dengan tetap menampilkan corak dan motif asli tanpa dimanipulasi,” ujarnya.

Aktivis perempuan yang bergerak di bidang tenun menenun ini menjelaskan, proses pembuatan selembar tenun adalah sesuatu yang istimewa bahkan bermartabat bagi seorang perempuan. Karena dari kegiatan tenun menenun, seorang perempuan mendapat penghargaan dan dihormati martabatnya sebagai perempuan. Dengan menenun, seorang perempuan menemukan jati dirinya dan mengaktualisasikan nilai-nilai moral-spiritual bukan hanya dalam lingkup domestik seperti keluarga, juga lingkungan sosial yang lebih luas.

Sebagai seorang pelaku tenun yang sudah lebih 30 tahun menggeluti dunia tenun meneun, Ia mengungkapkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, banyak orang mengambil jalan pintas dengan memanipulasi corak dan ciri khas hasil tenun kaum perempuan di suatu daerah untuk menjadi produk baru yang lebih berwarna warni dan menarik minat dan selera pasar.

Kondisi demikian, bukan tidak mungkin, suatu saat produk tenun ikat khas Flores ditinggalkan peminatnya karena kehilangan nilai, corak dan kekhasannya.

Karena itu, kaum perempuan Flores diharapkan tetap mempertahankan kekhasan tenun ikat tradisional yang merupakan warisan para leluhur. Pasalnya, yang tradisional tidak selamanya ketinggalan zaman. *(Kornelius Rahalaka)

Artikel ini telah dibaca 423 kali

Baca Lainnya
x