Manggarai Barat

Jumat, 24 Juli 2020 - 11:21 WIB

4 bulan yang lalu

logo

Bagang nelayan yang sudah tidak tampak di Kota Labuan Bajo. (Foto: Kornelius Rahalaka)

Bagang nelayan yang sudah tidak tampak di Kota Labuan Bajo. (Foto: Kornelius Rahalaka)

Bagang-Bagang itu Kini Tinggal Kenangan

Labuan Bajo, floreseditorial.com – Sepuluh hingga lima belas tahun lalu, jika Anda berkunjung ke Kota Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat, Anda masih menyaksikan perahu-perahu nelayan tradisional atau oleh warga setempat menyebutnya bagang, berjejerdi sepanjang pesisir pantai Labuan Bajo dan sekitarnya.

Ketika senja tiba, perahu-perahu nelayan yang dihiasi lampu warna-warni tersebut, tampak kelap-kelip menambah syahdu suasana pantai. Namun, panorama indah tersebut kini tak dinikmati lagi oleh warga atau para pengunjung yang datang ke kota ini. Bagang-bagang milik para nelayan itu hilang, entah di mana.

Dulu, perahu-perahu nelayan yang digunakan mencari hasil laut itu, saban hari berseliweran di perairan laut Labuan Bajo dan sekitarnya. Kini ‘tergusur’ digantikan kapal-kapal angkutan waisata lokal maupun wisatawan mancanegara. Kota yang dulu tenang dan damai, perlahan-lahan berubah menjadi kota yang ramai dan bising oleh derap kemajuan dunia kepariwisataan.

Ke manakah perahu-perahu para nelayan tradisional itu? Masihkan para nelayan Labuan Bajo menjalani aktivitas keseharian mereka sebagai nelayan dan pelaut?

“Saya dan banyak teman lain sudah tidak mencari ikan. Perahu-perahu sudah kami ubah untuk mengangkut turis. Usaha ini lebih untung dari pada mencari ikan,” ujar Jainudin, seorang pemilik bagang yang beralih profesi menjadi ‘juragan’ turis alias kapten kapal pengangkut wisatawan.

Beralih profesi dari nelayan menjadi ‘juragan turis’ bukan tanpa alasan. Dalam hitungan untung dan rugi, tetap menjadi nelayan di tengah pesatnya industri pariwisata, bukan pilihan yang gampang. Maklum, sejak pariwisata booming, kawasan perairan Labuan Bajo “dikuasai” kapal-kapal pesiar.

Bagi Jainudin, pekerjaan sebagai nelayan di kota pariwisata ini, tidak banyak membantu dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarganya. Pesatnya pariwisata telah mengubah Labuan Bajo sebagai kota wisata internasional. Hal ini ikut mengubah pola pikir dan cara hidup banyak orang terutama para nelayan tradisional.

Dahulu, Labuan Bajo menjadi kota nelayan, kini berubah menjadi kota wisata. Profesi sebagai nelayan rasanya sulit dipertahankan. Apalagi, sebagian kawasan laut dan pesisir Kota Labuan Bajo dan sekitarnya telah hilang akibat dikapling-kapling para pengusaha untuk membangun hotel, restoran atau bisnis jasa lainnya.

Para pebisnis itu tidak peduli bahwa wilayah pesisir atau laut adalah ruang publik yang tidak boleh dikapling menjadi miliki pribadi. Ia pun mengaku tidak peduli dengan segala tetek bengek yang berhubungan dengan hal itu. Ia hanya berpikir bagaimana mencari nafkah agar asap dapur tetap mengepul.

Jainudin, hanyalah satu di antara ribuan nelayan Labuan bajo yang kini beralih profesi dari nelayan menjadi juragan turis, pedagang asongan atau pedagang sayur mayur di pasar-pasar tradisional.

Sebaliknya, bagi para nelayan yang ingin terus bertahan dengan profesinya sebagai nelayan, mau tidak mau harus menyingkir atau terpaksa tersingkir ke tempat lain. Ia harus merantau atau keluar kota agar bisa mencari ikan dengan nyaman.

Seperti dialami, Sulaiman, seorang nelayan asal Kampung Tengah, Labuan Bajo. Ia terpaksa tinggal di Pulau Papagarang dalam bilangan Taman Nasional Komodo agar tetap bisa melaut.

Narasi kedua nelayan ini hanyalah sekelumit kisah yang direkam floreseditorial.com, ketika keduanya ditemui secara terpisah awal bulan ini.

Kini, bagang-bagang para nelayan tradisional itu tak lagi menghiasi bibir pantai Kota Labuan Bajo. Bagang-bangang itu pun tinggal kenangan. Yang terlihat, hanya kapal-kapal pengangkut wisatawan yang berseliweran saban hari di perairan laut Labuan Bajo.

Namun, di tengah pandemi virus corona, kapal-kapal itu pun hanya bisa berlabuh di area pelabuhan. Tiada wisatawan yang melancong ke beberapa destinasi wisata di Taman Nasional Komodo. Bahkan, sebagian kapal milik pengusaha dibiarkan tenggelam ke dasar samudera lantaran ditinggal pergi pemiliknya.

Apakah para nelayan dan bagang-bagang itu akan kembali menghiasai peraira laut Kota Labuan Bajo seiring berlalunya badai virus corona? Entahlah… *(Kornelius Rahalaka)

Artikel ini telah dibaca 458 kali

Baca Lainnya
x