Manggarai

Selasa, 24 November 2020 - 15:25 WIB

5 bulan yang lalu

logo

Para Tua Adat saat melakukan ritus syukur di pusat sumber mata air (wae teku). (Foto: Hardy Sungkang)

Para Tua Adat saat melakukan ritus syukur di pusat sumber mata air (wae teku). (Foto: Hardy Sungkang)

Ritual Barong Wae dan Barong Lodok Budaya Manggarai

Negara Indonesia memiliki beragam budaya dan warisan para pendahulu. Warisan tersebut merupakan fondasi dasar hidup manusia. Karenanya, budaya dan warisan harus diwariskan tanpa mengurangi nilai luhur cita-cita bangsa dan negara. Hal itu pun ditandai dengan kebudayaan adat istiadat masing-masing wilayah di Indonesia. Salah satu hal mendasar, kini masyarakat Manggarai, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) perlahan merekonstruksi revitalisasi adat pada generasi milenial.

Di tengah situasi dunia yang sedang dilandai sakit global pandemi covid-19, masyarakat adat di Manggarai tidak mau kalah dengan keadaan. Hal itu sering kali menjadi salah satu tanda untuk menjegal keadaan mendunia itu. Di mana masyarakat Manggarai percaya, leluhur dan alam semesta akan menyatu memberantas keadaan itu, serta siap mengusir jauh dari perhelatan hidup masyarakatnya. Warisan dan budaya adalah senjata menentang keadaan yang ingin mengganggu netralitas hidup manusia saat ini.

Sebagai salah satu bentuk penentangan melalui warisan leluhur terhadap situai sosial global masyarakat Manggarai, penulis melihat prosesi adat yang terjadi di salah satu kampung di Manggarai yakni Kampung Golo, Desa Golo, pada Sabtu (21/11/2020), yang secara nalar dan logika bisa diterima adalah prosesi adat barong wae (prosesi syukur di mata air) dan barong lodok (prosesi syukur di wilayah pusat pembagian tanah secara budaya Manggarai).

Prosesi ritual barong wae dan barong lodok ini merupakan bagian terpenting dari rangakaian acara penti (syukuran panen) budaya Manggarai. Dalam praktik pelaksanaanya, masyarakat melakukan upacara memberi makan nenek moyang dan alam semesta di tempat tersebut, sembari memperembahkan seekor ayam dan sebutir telur.

Dalam kesempatan itu, tampak juga masyarakat yang mengikuti kegiatan itu mengumandangkan doa dengan syair adat Manggarai, dengan tujuan doa kepada Tuhan, leluhur, dan alam semesta. Memohon dan syukur atas seluruh peristiwa hidup yang diterima.

Barong wae teku dan barong lodok merupakan salah satu ritual adat dalam upacara penti weki peso beo (syukur panen) di setiap kampung di Manggarai. Karena itu, ritual barong wae dan barong lodok merupakan bentuk persembahan kepada leluhur dan alam semesta, sebagai pemilik kebajikan,” terang Mateus Suban, Tua Adat Kampung Golo.

Prosesi adat ini merupakan salah satu tindakan budaya yang memiliki tujuan untuk mengucap syukur dan memohon kepada leluhur, serta alam semesta, agar senantiasa memberikan kebajikan bagi seluruh perjuangan masyarakat sekampung. Dalam prosesi ini juga, tampak seluruh masyarakat kampung menggunakan busana adat, dengan mengenakan baju putih dan kain songke serta topi songke Manggarai. Kekhasan ini merupakan dasar dari revitalisasi budaya di tengah arus modern saat ini.

Iringan lagu budaya dengan syair yang menakjubkan, puluhan kepala keluarga dan anak muda kampung yang mengikuti prosesi ritual adat tersebut tampak begitu antusias. Cuaca alam yang bersahabat. Suasana kampung serentak berubah. Riuh gemuruh menjadi hening seketika menyaksikan prosesi ritual adat tersebut.

Pantauan penulis, para pemuda kampung yang pulang dari wae teku dan lodok, masing-masing dijemput beberapa Ibu-ibu dan anak gadis, dengan tarian lenggok khas budaya Manggarai. Kebaya manik nan elok membuat mereka semakin percaya diri menyambut para Tua-tua yang pulang melakukan ritus syukur di pusat sumber mata air (wae teku) dan di pusat pembagian lahan (lodok) Manggarai. Lagu-lagu budaya Manggarai dengan syair berupa sajak penyatuan (neggo), mengiringi perjalanan mereka menuju rumah adat.

Pergerakan budaya ini merupakan salah satu tantangan besar bagi generasi mendatang. Yang mana pada masa kini budaya sering kali dilihat sebaga seremonial semata. Masih banyak kaum muda melihat budaya hanya sebagai warisan tanpa tanda dan makna. Hal tersebut ditandai oleh keterlibatan kaum muda dalam setiap perhelatan warisan budaya para leluhur. Kaum muda masih ditantang dengan keterlibatan dirinya dalam setiap perhelatan budaya yang terjadi di wilayahnya masing-masing. (Hardy Sungkang)

Artikel ini telah dibaca 489 kali

Baca Lainnya
x