Menu

Mode Gelap

Warisan Budaya WITA ·

Pesona Situs Bata ne Suka


 Sejumlah wisatawan lokal sedang menikmati situs Bata ne Suka. (Foto: Martin Lusi) Perbesar

Sejumlah wisatawan lokal sedang menikmati situs Bata ne Suka. (Foto: Martin Lusi)

Floreseditorial.com, Bajawa – Berwisata adalah aktivitas bersenang-senang dengan mengunjungi suatu obyek wisata, entah wisata alam atau budaya. Wisatawan biasanya menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk berekreasi atau sekedar melepas lelah setelah bekerja.

Untuk itu, wisatawan baik mancanegara maupun wisatawan domestik atau lokal, biasanya mengunjungi tempat-tempat wisata baik di kota, di luar kota bahkan berwisata ke luar negeri.

Pada zaman ini, berwisata sudah merupakan kebutuhan manusia, tak ketinggalan pula bagi wisatawan lokal atau domestik.

Kabupaten Ngada sendiri memiliki banyak obyek wisata yang layak dikunjungi. Salah satunya adalah Bata ne Suka, situs wisata alam yang terletak di kaki Gunung Inerie.

Situs Bata ne Suka merupakan sebuah kawasan indah, yang oleh orang Ngada dipercayai sebagai situs peninggalan leluhur orang Ngada, pasca bencana alam yang pernah terjadi ratusan bahkan ribuan tahun lalu.

Lokasi terletak di lereng Gunung Inerie, tepatnya di Dusun Rutogeli, Desa Bela, Kecamatan Bajawa ini menampilakan sebuah pemandangan yang mempesona. Memasuki lokasi Bata ne Suka, kita langsung disuguhi panorama alam yang indah. Terdiri dari perbukitan terjal dengan batuan cadas, membentuk landscape yang menawan.

Setiap akhir pekan, puluhan anak muda dari kota Bajawa dan sekitarnya, datang ke lokasi ini untuk berekreasi atau bersenang-senang.

Untuk mencapai Bata Ne Suka, pengunjung dapat menggunakan sepeda motor atau mobil. Jarak tempuh tidak lebih dari 30 menit perjalanan dari kota Bajawa.

Tiba di lereng Gunung Inerie, pengunjung berjalan kaki sekitar 20 menit menuju hamparan sabana dan bukit Bata ne Suka untuk menikmati panorama alam, berupa perbukitan dan savana yang melegenda.

Di sisi utara, wisatawan dapat menikmati pemandangan Gunung Inerie yang menjulang tinggi, dengan bentangan laut biru tampak di sebelah barat. Lokasi Bata ne Suka sangat cocok untuk kegiatan outbond atau camping.

Obi Gua, seorang pemuda desa yang ditemui menuturkan, wisata Bata ne Suka bagi orang Ngada punya sejarah yang panjang dan cukup melegenda. Sayangnya, hingga kini situs warisan leluhur ini belum mendapatkan perhatian serius pemerintah setempat.

Obi bercerita, Ia bersama anak-anak muda di desanya sudah berencana untuk mengembangkan kawasan tersebut menjadi obyek wisata menarik.

“Kami bersama teman-teman sudah lama berencana untuk kembangkan situs warisan leluhur ini menjadi wisata yang menarik, namun niat kami belum terealisasi,” ujarnya seraya mengatakan, selama ini kawasan tersebut sudah kerap dikunjungi, dan masyarakat sering melakukan aktivitas outbond atau camping di lokasi tersebut.

Ia berencana akan mendekati kepal desa untuk membicarakan pengembangan kawasan itu, sehingga menjadi salah satu tempat wisata. Namun, Ia mengaku masih perlu belajar banyak bagaimana mengelola kawasan itu sehingga menjadi obyek wisata yang menarik.

Kepala Desa Bela, Anus Loga. (Foto: Martin Lusi)

Niat anak-anak muda mendapat respon positif dari Kepala Desa Bela, Anus Loga yang ditemui floreseditorial.com, Jumat (22/5/2020).

Ia mengaku, situs Bata ne Suka merupakan kekayaan desa dan sudah masuk dalam inventarisasi kekayaan desa, bahkan sudah masuk dalam RPJMDes. Namun karena terkendala anggaran, sehingga kawasan tersebut belum ditata dan dibenahi.

“Lokasi wisata Bata ne Suka sudah masuk dalam perencanaan pengembangan wisata oleh Pemdes Bela, namun kita terkendala anggaran sehingga belum bisa terealisasi, apalagi sekarang sedang pandemi covid. Mungkin tahun 2021 akan kita anggarkan dan kita akan kerjasama dengan orang-orang muda di desa ini,” kata dia dengan nada optimistis.

Selain situs Bata ne Suka, sebut Kades Loga, di wilayah itu juga terdapat beberapa situs warisan alam dan budaya seperti Ngadhu dan Bhaga, yakni simbol laki-laki dan perempuan, situs kapal karam atau alo rajo boat dan padi yang tumbuh di tebing bukit serta masih beberapa situs lainnya yang dapat dikembangkan, di masa kini maupun untuk generasi masa mendatang.

Penulis: Martin Lusi
Editor: Kornelius Rahalaka

Artikel ini telah dibaca 597 kali

Baca Lainnya

Gereja Tua Lengko Ajang, Bukti Perkawinan Budaya Eropa dan Manggarai

23 September 2021 - 04:21 WITA

Ritual Barong Wae dan Barong Lodok Budaya Manggarai

24 November 2020 - 15:25 WITA

Pesona Air Terjun Ogi di Kabupaten Ngada

17 November 2020 - 06:09 WITA

Ratusan Warga Jemput Menantu Wakil Tua Golo Tado

13 November 2020 - 06:45 WITA

Menikmati Keindahan Alam Manggarai Timur di Air Terjun Rana Mese

12 Oktober 2020 - 20:10 WITA

Pulau Mauwan yang Menawan

13 September 2020 - 04:13 WITA

Trending di Wisata Pilihan
x