Menu

Mode Gelap

Desa Wisata WITA ·

Ruteng Pu’u, Kampung Tua Nan Asri


 Kampung Ruteng Pu'u, destinasi pariwisata budaya yang masih terjaga baik. (Foto: Kornelius Rahalaka) Perbesar

Kampung Ruteng Pu'u, destinasi pariwisata budaya yang masih terjaga baik. (Foto: Kornelius Rahalaka)

Ruteng, floreseditorial.com – Kampung Ruteng Pu’u terletak di Kelurahan Golo Dukal, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai. Kampung tua nan asri ini merupakan salah satu destinasi pariwisata budaya yang perlu dibenahi. Jika Anda mamasuki Kampung Ruteng Pu’u, Anda ibarat memasuki oase dengan udara yang sejuk dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota.
Jarak kampung Ruteng Pu’u dengan kota Ruteng, Ibu Kota Kabupaten Manggarai hanya sekitar 3 Km atau sekitar 7 menit perjalanan dengan menggunakan sepeda motor atau bus. Kampung Ruteng Pu’u memiliki dua akses jalan utama yakni bagian Timur dan Selatan. Memasuki Kampung Ruteng Pu’u Anda akan disuguhi pemandangan yang indah. Hutan kopi dan pepohonan rindang segera menyeruak, menyembulkan cuaca sejuk nan syahdu.

Keramah tamahan penduduk kampung menambah keakraban dan kedamaian bagi setiap pengunjung. Martinus Ampa, salah seorang pewaris Kampung Ruteng Pu’u yang ditemui floreseditorial.com, Sabtu pekan lalu menjelaskan, Kampung Ruteng Pu’u dihuni oleh dua suku/klen utama yakni Ruteng Runtu dan Ruteng Dosor. Dua suku ini menempati dua rumah adat, masing-masing dikenal dengan sebutan Gendang dan Tambor.

Sejak dulu, para anggota kedua suku menempati gendang masing-masing. Mereka tinggal bersama di dalam gendang atau tambor. Di dalam gendang atau tambor dibagi beberapa kamar sebagai ruangan tempat tinggal. Namun, seiring pertambahan jumlah anggota suku, mereka kemudian mendirikan rumah tinggal dengan konstruksi melingkar berikut compang atau tempat persembahan leluhur berada di tengah kampung Ruteng Pu’u. Rumah gendang biasa dihuni oleh perwakilan dari pihak anak wina atau laki-laki, sedangkan tambor dihuni oleh anak rona atau pihak perempuan.

Sehari-hari penduduk Ruteng Pu’u hidup dalam suasana harmonis dan damai. Nyaris tak ada konflik diantara mereka.

“Kami selalu hidup damai dan harmonis. Kami tidak ingin kampung kami konflik, baik antar sesama anggota suku maupun dengan pihak luar,” ujar Martin dengan nada bangga.

Om Martin, demikian pria paruh baya ini biasa disapa menuturkan, Kampung Ruteng Pu’u termasuk salah satu kampung adat tertua di Manggarai. Hingga kini, kampung ini menjadi pusat kebudayaan orang Manggarai. Konon, kampung ini dibentuk berkat adanya perpaduan relasi antara manusia dengan mahkluk halus sehingga konstruksi bangunan rumah adat dan compang serta rumah-rumah penduduk lainnya didesain berbentuk compang sebagai mesbah persembahan kepada para leluhur mereka.

Orang Ruteng Pu’u berkeyakinan bahwa kehidupan manusia di bumi ini tidak bisa dilepas-pisahkan antara hubungan manusia dengan para leluhur mereka. Kini Ruteng Pu’u didiami 12 Kepala Keluarga (KK) dengan masing-masing suku mempunyai tu’a atau pemimpin adat setempat.

Gendang one lingko pe’ang sebagai filosofi orang Manggarai tetap jadi alat perekat persatuan dan persaudaraan di antara mereka. Dalam hal pembagian wilayah kekuasaan pun dilakukan dengan adil dan damai, sejalan dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun.

Sejauh ini, penduduk Kampung Ruteng Pu’u tetap mempertahankan tradisi mereka dengan sangat baik. Berbagai intervensi pihak luar terhadap dinamika kehidupan komunitas adat Ruteng Pu’u mereka hindari terutama yang bernuansa memecah belah persatuan, kebersamaan serta yang berpotensi merusak nilai-nilai adat dan budaya mereka.

Namun aktivitas yang berhubungan dengan ritual adat istiadat komunitas setempat perlahan-lahan hilang lantaran terbentur biaya.

“Sudah lama kami tidak mengadakan berbagai upacara adat khususnya penti karena acara penti membutuhkan biaya yang besar, sementara kemampuan ekonomi komunitas sangat terbatas,” tukas Martin.

Ia pun bermimpi, suatu waktu nanti, ritus-ritus adat dapat dihidupkan kembali guna menjamin kelestarian budaya dan adat istiadat setempat serta Kampung Ruteng Pu’u tetap dijadikan sebagai salah satu destinasi pariwisata utama. *(Kornelius Rahalaka)

Artikel ini telah dibaca 347 kali

Baca Lainnya

Gereja Tua Lengko Ajang, Bukti Perkawinan Budaya Eropa dan Manggarai

23 September 2021 - 04:21 WITA

Ritual Barong Wae dan Barong Lodok Budaya Manggarai

24 November 2020 - 15:25 WITA

Pesona Air Terjun Ogi di Kabupaten Ngada

17 November 2020 - 06:09 WITA

Ratusan Warga Jemput Menantu Wakil Tua Golo Tado

13 November 2020 - 06:45 WITA

Menikmati Keindahan Alam Manggarai Timur di Air Terjun Rana Mese

12 Oktober 2020 - 20:10 WITA

Pulau Mauwan yang Menawan

13 September 2020 - 04:13 WITA

Trending di Wisata Pilihan
x